----------------------------
Buat peneguh azzam saat niat sudah dikobarkan
apalagi buat yang telah memulainya...
Semoga dimulakan dengan basmalah
diakhirkan dengan hamdalah (membersihkan hati terhadap
niat dan cara kita untuk melengkapi 0.5 dien :-).
----------------------------
An African proverb states, "Before you get married, keep both eyes open, and after you marry, close one eye."
Before you get involved and make a commitment to someone, don't let lust, desperation, immaturity, ignorance, pressure from others or a low self-esteem make you blind to warning signs. Keep your eyes open, and don't fool yourself that you can change someone or that what you see as faults aren't really important.
Once you decide to commit to someone, over time their flaws, vulnerabilities, pet pee ves, and differences will become more obvious. If you love your mate and want the relationship to grow and evolve, you've got to learn to close one eye and not let every little thing bother you.
You and your mate have many different expectations, emotional needs, values, dreams, weaknesses, and strengths. You are two unique individuals who have decided to share a life together. Neither of you are perfect, but are you perfect for each other? Do you bring out the best of each other? Do you compliment and compromise with each other, or do you compete, compare, and control? What do you bring to the relationship? Do you bring past relationships, past hurt, past mistrust, past pain?
You can't take someone to the altar to alter him or her. You can't make someone love you or make someone stay. If you develop self-esteem, spiritual discernment, and "a life", you won't find yourself making someone else responsible for your happiness or responsible for your pain. Manipulation, control, jealousy, neediness, and selfishness are not the ingredients of a thriving, healthy, loving and lasting relationship.
Seeking status, sex, wealth, and security are the wrong reasons to be in a relationship. What keeps a relationship strong? Communication, intimacy, trust, a sense of humor, sharing household tasks, some getaway time without business or children and daily exchanges (a meal, shared activity, a hug, a call, a touch, a note). Leave a nice message on their voicemail or send a nice email. Sharing common goals and interests.
Growth is important. Grow together, not away from each other, giving each other space to grow without feeling insecure. Allow your mate to have outside interest. You can't always be together. Give each other a sense of belonging and assurances of commitment. Don't try to control one another.
Learn each other's family situation. Respect his or her parents regardless. Don't put pressure on each other for material goods. Remember for richer or for poorer. If these qualities are missing, the relationship will erode as resentment, withdrawal, abuse, neglect, dishonesty, and pain replace the passion.
"Nurture your mind with great thoughts, for you will never go any higher than you think." The grass withers, the flowers fades, but the word of God stands forever.
Shall we make a new rule of life from tonight? Always to try to be a little kinder than is necessary. The difference between 'United' and 'Untied' is where you put the "i". Life is not measured by the number of breaths we take, but by the moments that take our breath away.
--A Soulful Relationship by Reverend Ronald McFadden--
*********************************************
Beberapa referensi, seperti : buku, majalah, blog atau situs juga bisa dijadikan sebagai bahan bacaan untuk mempersiapkan memasuki mahligai episode baru dalam hidup, di bawah ini adalah buku bacaan kami [bukan promosi loh....cuma ayooo budayakan membaca] :
Saat mereka mendoakan, "Baarakallaahu laka.." Kubisikkan padamu, "Cintamu, sehangat ciuman bidadari.." Kau menjawab, "Ada barakah di kala bidadari cemburu."
Ketika mereka meminta lagi pada Allah, "Wa baarakallaahu 'alaika.." Lirikanmu menelisik hatiku, "Dalam badai, dekap aku lebih erat!" "Bersama barakah, masalah akan menguatkan jalinan," begitu kau kuyakinkan.
Lalu mereka menutup, "Wa jama'a bainakuma fii khaiir.." Maka tangan kita saling berpaut dan jemarinya menyatu, "Genggam tanganku, rasakan kekuatan cinta!" Maka sempurnalah tiga perayaan cinta.
Di saat apapun barakah itu membawakan kebahagiaan. Sebuah letup kegembiraan di hati, kelapangan di dada, kejernihan di akal, dan rasa nikmat di jasad. Barakah itu memberi suasana lain dan mencurahkan keceriaan musim semi, apapun masalah yang sedang membadai rumah tangga kita. Barakah itu membawakan senyum meski air mata menitik-nitik. Barakah itu menyergapkan rindu di tengah kejengkelan. Barakah itu menyediakan rengkuhan dan belaian lembut di saat dada kita sesak oleh masalah.
Baarakallaahu Laka, Bahagianya Merayakan Cinta.
2. M. Fauzil Adhim, Kado Pernikahan untuk Istriku (trilogi Kupinang Engkau dengan Hamdalah), Mitra Pustaka Yogyakarta, 2006
Begitu menggugah....
Buku ini meramu pengetahuan yang sangat dibutuhkan oleh pengantin baru serta mereka yang ingin menyegarkan kembali pernikahannya agar lebih bermakna. Dikemas dengan bahasa yang mengalir, lincah dan cerdas. Menghadirkan tuntunan Islam dengan penuturan yang menggugah.
Terdiri dari tiga jendela. Jendela pertama menyajikan uraian tentang berbagai masalah sebelum menikah, seperti meminang, pertimbangan untuk mengiyakan atau menolak pinangan, membedakan antara menyegerakan dan tergesa-gesa hingga soal perintah agama untuk memudahkan perkawinan dan meringankan mahar.
Bagi pengantin baru, ada Jendela kedua yang membahas tentang akad nikah, bagaimana memasuki malam zafaf=malam pertama. Tuntunan Islam membimbing agar malam pertama berlalu dengan barokah dan sekaligus mengguratkan kesan yang sangat mendalam. Ada bab penting tentang berhias serta bagaimana memelihara kemesraan suami-istri, sehingga hubungan intim tetap indah sekalipun anak sudah tiga.
Jendela ketiga penting untuk siapa saja yang ingin memelihara cinta dan perkawinan. Didalamnya ada bahasan cerdas tentang komunikasi suami-istri, termasuk bagaimana mengelaola konflik agar berakhir dengan kebaikan.
4. Cahyadi Takariawan, Di Jalan Dakwah Aku Menikah, Era Intermedia,
Apakah Anda telah memiliki kesiapan untuk menikah? Jika Anda yakin telah siap, segeralah melangsungkan pernikahan di Jalan Dakwah.
Jalan inilah yang telah mengantarkan Nabi Saw. menikahi istri-istrinya, para Ummahatul Mukminin. Jalan ini yang mengantarkan Ummu Sulaim menerima pinangan Abu Thalhah. Jalan yang menyebabkan bertemunya Ali r.a. dan Fatimah Az-Zahra dalam sebuah keluarga. Di jalan itu pula para sahabat Nabi menikah. Di jalah dakwah itulah orang-orang saleh membina rumah tangga sakinah.
Seperti apakah pernikahan di Jalan Dakwah itu? Buku ini akan mengantarkan Anda menemukan jawaban tuntasnya.
5. Sasa Esa Agustiana, Wanita Antara Cinta & Keindahan, Khazanah Intelektual, 2005
Sebuah perenungan yang akan membawa opini pada sebuah pemahaman mendalam tentang wanita dalam berbagai dimensinya. Buku ini berbicara tentang wanita, bagaimana ia menjalani masa remaja, dewasa, serta berkeluarga. Menjadi istri sekaligus ibu adalah sebuah konsekuensi yang walaupun tidak mudah harus dihadapi dan harus dipertanggung jawabkan kepada Sang Pencipta. Wanita adalah sosok yang kuat sebagai partner pria dengan potensi yang dimiliki.
6. Izzatul Jannah-Robiah Al Adawiyah, Diary Pengantin, Asy Syaamil, 2005
Kisah Nyata dari penulisnya berupa pengalaman-pengalaman mereka dari mulai masa ta'aruf sampai menikah dan diamanahi buah hati. Asyik, mengalir dan tentu banyak hikmah
7. Anis Matta, Sebelum mengambil Keputusan Besar Itu (Kumpulan Ceramah Tentang Pernikahan), Asy Syaamil, 2003
Cuplikan : "Jangan pernah bermimpi mencari pasangan yang ideal, tapi carilah pasangan yang tepat. Kita tidak sedang berpikir mencari istri atau suami unggul. Carilah istri yang tepat dengan bingkai kita, dengan kepribadian kita. Sebab ternyata tidak semua orang cerdas membutuhkan orang cerdas lain, tidak semua orang gagah membutuhkan wanita cantik."
Buku ini unik karena pembaca mendapat sudut pandang baru tentang rumah tangga. Sebuah sudut pandang yang bukan didasarkan pada teori tapi lebih kepada pengalaman, pengamatan dan pemiiran khas Anis Matta. Cuplikan berikut adalah contohnya, "Saya sering mengatakan, satu hal yang hilang dari banyak kalangan para keluarga muda muslim adalah bahwa setelah mereka menikah dan disibukkan dengan rutinitas mendidik anak, kebersihan rumah dan mencari nafkah, mereka seperti hampir kehilangan selera untuk sekadar mengatakan, 'Aku cinta padamu'. Hampir kehilangan, bahkan kita sering membuat kamuflase dengan mengatakan, 'Kita ini kan aktivis dakwah, tidak butuh lagi kalimat-kalimat seperti itu. Tadinya saya memang tergoda dengan pikiran seperti itu. Lama-lama kita tetap manusia biasa.' Padahal sekalipun kita sedang menjadi aktivis dakwah, kita sedang berubah menjadi malaikat. Kebutuhan kita akan kalimat-kalimat verbal, yang indah dan tulus, sama seperti kebutuhan kita terlibat dalam dakwah. 'Andai kamu begini kamu lebih canik' atau, 'Sore ini kamu cantik sekali.'
8. Komitmen Muslim Terhadap Harokah
Yg lainnya masih buanyaaaakkkkk ini hanya sebagian aja