Pernikahan..
Semua orang bisa melakukannya, menjalaninya, menikmatinya bahkan memporak-porandakannya.
Pernikahan bukan sebuah keinginan, namun sebuah keberanian untuk mengambil tanggung jawab dan kesiapan untuk berjuang. Bisa juga menjadi sebuah pilihan. Sebab ada banyak cara untuk sekedar menunjukkan rasa simpati, kasih sayang dan.... cinta. Dan pernikahan adalah cara paling cerdas untuk itu.
Pernikahan menjadikan kita belajar banyak hal, bahwa perkenalan adalah suatu proses panjang yang tak pernah lekang dan terbatas oleh waktu. Bahwa pasangan kita adalah manusia biasa yang punya potensi hina dan mulia, seperti juga kita.
Pernikahan menjadikan kita mengevaluasi diri, bukan untuk menjadi malaikat, bukan juga hanya untuk sekedar meraih bahagia.
Pernikahan adalah keikhlasan...... untuk memberi dan melakukan kebaikan. Mendahului memaafkan, mendahului bertindak mulia..... Hingga tak ada yang merasa terdzalimi, karena semua hak telah terpenuhi, keseimbangan telah terjiwai. Menyatu dalam ikatan yang di ridhai Allah Arrahman, Sang Pemilik Cinta Sejati.
by : Robi'ah Al-adawiyah
Taken from "Diary Pengantin"
**************************************
Maha suci Allah yang telah menciptakan makhluknya berpasang-pasangan (Qs. Yaa Siin (36) : 36)
Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu (QS. An Nuur (24) : 32)
"Ada tiga perkara yang harus disegerakan, yaitu: (1) shalat apabila waktunya telah tiba, (2) menguburkan jenazah apabila sudah datang, (3) seorang perempuan apabila sudah didapat (jodohnya) yang cocok)." (HR Tarmizi).
**************************************
Filosofi Dari Sebuah "IKATAN PERNIKAHAN"
UNTUK SUAMI-ku
(Sebuah Syair Renungan Singkat Bagi Laki-laki)
Pernikahan atau perkawinan, Menyingkap tabir rahasia …
Isteri yang kamu nikahi,
Tidaklah semulia Khadijah,
Tidaklah setaqwa Aisyah,
Pun tidak setabah Fatimah …
Justru Isteri hanyalah wanita akhir zaman,
Yang punya cita-cita, Menjadi solehah…
Pernikahan ataupun perkawinan,
Mengajar kita kewajiban bersama …
Isteri menjadi tanah, Kamu langit penaungnya,
Isteri ladang tanaman, Kamu pemagarnya,
Isteri kiasan ternakan, Kamu gembalanya,
Isteri adalah murid, Kamu mursyid (pembimbing)-nya,
Isteri bagaikan anak kecil, Kamu tempat bermanjanya …
Saat Isteri menjadi madu, Kamu teguklah sepuasnya,
Seketika Isteri menjadi racun, Kamulah penawar bisanya,
Seandainya Isteri tulang yang bengkok, ber-hati²lah meluruskannya …
Pernikahan ataupun perkawinan,
Menginsafkan kita perlunya iman dan taqwa …
Untuk belajar meniti sabar dan ridho,
Karena memiliki Isteri yang tak sehebat mana,
Justru kamu akan tersentak dari alpa,
Kamu bukanlah Muhammad Rasulullah atau Isa As,
Pun bukanlah Sayyidina Ali Karamaullahhuwajah,
Cuma suami akhir zaman, yang berusaha menjadi soleh …
UNTUK ISTRI-ku
(Sebuah Syair Renungan Singkat Bagi Wanita)
Pernikahan ataupun perkawinan,
Membuka tabir rahasia,
Suami yang menikahi kamu,
Tidaklah semulia Muhammad, Tidaklah setaqwa Ibrahim,
Pun tidak setabah Isa atau Ayub,
Atau pun segagah Musa, apalagi setampan Yusuf
Justru suamimu hanyalah pria akhir zaman,
Yang punya cita-cita, Membangun keturunan yang soleh …
Pernikahan ataupun Perkawinan,
Mengajar kita kewajiban bersama,
Suami menjadi pelindung, Kamu penghuninya,
Suami adalah Nakoda kapal, Kamu navigatornya,
Suami bagaikan balita yang nakal, Kamulah penuntun kenakalannya,
Saat Suami menjadi Raja, Kamu nikmati anggur singasananya,
Seketika Suami menjadi bisa, Kamulah penawar obatnya,
Seandainya Suami masinis yang lancang, sabarlah memperingatkannya
Pernikahan ataupun Perkawinan,
Mengajarkan kita perlunya iman dan taqwa,
Untuk belajar meniti sabar dan ridho,
Karena memiliki suami yang tak segagah mana,
Justru Kamu akan tersentak dari alpa,
Kamu bukanlah Khadijah, yang begitu sempurna di dalam menjaga
Pun bukanlah Hajar ataupun Mariam, yang begitu setia dalam sengsara
Cuma wanita akhir zaman, yang berusaha menjadi solehah …
**************************************
"Miitsaaqan Ghaliizhaa" .......
Frasa yang hanya tiga kali muncul dalam redaksi 30 juz. Tiga miitsaaqan Ghaliizhaa adalah (1) perjanjian besar Allah dengan Bani Israil sampai gunung Thursina diangkat ke atas kepala mereka [QS An Nisa' 154] dan (2)perjanjian antara Allah dan rosul-Nya [QS 3Ali Imran 81].(3) "....Dan mereka (istri-istri kalian) telah mengambil dari kalian miitsaaqan ghaliizhaa (perjanjian yang berat)." [AN Nisa' 21]
Kata yang menggambarkan sebuah cakupan luas tentang kehadiran miitsaaqan ghaliizha, dalam rumah tangga yang membentang.
Ibnu Jarir Ath Thabari dalam tafsirnya, Al-Jaami' li Ahkamil Quran : "Miitsaaqan Ghaliizhaa adalah perjanjian kuat yang diambilkan Allah untuk para wanita, rujuk kembali dengan cara yang ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang bijak. Dan perjanjian yang kuat itu terdapat dalam akad kaum muslimin tatkala mengucap akad nikah. Demi Allah, kamu harus menjaganya dengan cara yang ma'ruf dan jika menceraikan dengan cara yang bijak."
Mujahid dan 'Ikrimah, ahli tafsir murid 'Abbas Radhiyallaahu 'Anhu menjelaskan "Kamu mengambil mereka dengan amanat Allah dan kamu halalkan farji mereka dengan kalimat Allah." Maka tiada kata main-main karena ada Allah antara kau dan dia!
"Takutlah kalian kepada Allah berkenaan dengan istri-istri kalian, karena kalian telah mengambil mereka dengan amanat Allah" [HR Muslim]
"Wahai manusia, sesungguhnya isteri kalian mempunyai hak atas kalian sebagaimana kalian memiliki hak atas mereka. Hak kalian atas mereka adalah agar mereka tidak terkenan mengizinkan orang yang tiada kalian senangi masuk ke rumah kecuali dengan izin kalian. Terlarang bagi mereka melakukan fawashy dan kekejian. Jika mereka berbuat demikian, kalian boleh menahan mereka, menjauhi tempat tidur mereka, dan memukul dengan pukulan yang tiada melukai. Jika mereka taat, maka kewajiban kalian adalah menjamin rizqi dan pakaian mereka sebaik-baiknya. Ketahuilah, kalian mengambil wanita itu dengan hak Allah, sebagai amanah dari-Nya dan kalian halalkan kehormatannya dengan kitab Allah. Takutlah kepada Allah dalam mengurus istri kalian. Aku wasiatkan agar kalian selalu berbuat baik."
« Kembali ke Menu Utama»